Jumat, 15 September 2017

H-A : SERPIHAN KE-1



SERPIHAN KE-1 : “DARI MANA? DAN BAGAIMANA ITU ADA?”




Hai… ini kisahku. Kisahku  menemukan sesuatu yang baru dalam diriku yang aku pun baru menyadarinya. tapi sebelumnya, perkenalkan namaku ‘Pelangi’ ini kisahku, mari kita mulai....
Aku adalah anak perempuan biasa yang tumbuh dengan biasa, Namun dengan kasih sayang yang luar biasa dari orang tuaku.

Pagi ini aku menjalani rutinitas pagiku yakni berangkat kuliah. Ditengah merapikan lengan kemeja, aku meraba lengan kanan atas ku yang terdapat bentol kecil seperti digigit nyamuk. Aku merabanya yang membuatku mengingat kapan dan bagaimana aku mendapatkan bentol tersebut.

Aku mendapati bentol itu ada semenjak aku bangun tidur sekitar 15 tahun yang lalu. Saat itu aku masih duduk di taman kanak-kanak, aku tak tahu bagaimana bentol itu tiba-tiba saja ada di lengan ku sampai sekarang. Bentol yang sama seperti digigit nyamuk tapi tidak hilang sampai sekarang, tidak bertambah besar, tapi  sejauh ini gatalnya tidak mengganggu.

 Aku terus berusaha mengingat bagaimana aku mendapatkan bentol ini di lenganku. Aku terpaku pada malam dimana sebelum aku mendapatkan bentol ini. Malam itu aku sedang bermain dengan sepupu perempuanku, dia 1 tahun lebih tua daripada aku meski kita masih anak-anak pada saat itu, sepupuku ini sudah memiliki sifat jahat. Dia selalu bersikap kejam padaku jika orang tuaku tidak ada disekitar kita, dia mengambil semua mainanku. Kemudian saat orang tuaku datang, dia akan sangat manis dan bersikap layaknya seorang kakak untukku. Ingin rasanya aku jujur pada orang tuaku bahwa dia itu jahat dan tak semanis itu. Dia akan berpura-pura teraniaya olehku di depan kakek -nenek kami namun kakek-nenek akan terus memanjakan ku tak perduli seberapa keras dia berusaha mau fitnahku. dan hal itulah yang membuat dia semakin membenciku sampai sekarang. Aku heran kenapa anak kecil seperti itu bisa jahat padahal anak kecil itu lugu dan polos namun tidak dengan sepupuku entahlah dari mana dia mendapatkan sifat itu.

 Malam itu, saat aku bermain bersama dengan sepupuku itu. kita bermain boneka hewan yang kemudian dia rebut boneka itu dariku. Aku kesal, Aku berlari keluar pintu memandang ke tengah gelapnya malam. Aku berteriak “AARGGGGGHH!!!” kemudian pingsan. Dan esok paginya, aku mendapatkan bentol itu. Aku tak mengerti akankah itu ada hubungannya tentang bentol itu dengan pingsan yang aku alami. Namun, Yang jelas Sampai sekarang aku tidak ingat kenapa aku menjerit hingga Aku pingsan. Apa yang terjadi? Apa yang aku lihat?.

“Kriiiiigggggggggg!!!”

Suara handphone-ku membuyarkan lamunanku. ku angkat telepon itu dan kemudian terdengar suara.

“Ela, lama banget sih lu? Buruan! jamuran nih gue nungguin lu. Inget! ini kelas pak Radit lho. jangan telat, kan lu tahu dia galak, buruan! gua tungguin depan kosan lu nih.“

Ya, aku ngekos karena tidak tinggal bersama orang tuaku semenjak kuliah. Omelan panjang itu meluncur bebas dari speaker telefonku tersebut.

“Iya iya ini gue udah kelar. gue keluar sekarang” jawabku sambil berjalan keluar pintu. 

“lama amat sih lu? keluar juga gitu gitu aja muka lu” manusia yang berceloteh di speaker kini telah kulihat wujudnya.

“Terus muka gue kudu gimana? Kudu mirip Bella hadid? Kendall Jenner?  Cara Delevigne? atau Selena gomez?”

“ jeeeuuh…. anak alay! ya udah buruan. entar kita telat nih Tiara sama Vanny udah nungguin kita di tempat biasa”

“ iya iya iya sorry deh, yaelah jangan ngambek dong Lia sayang” candaku.

“ dihhh najis Jibang (jijik banget) nggak usah sok manis deh lu” 

kemudian kita tertawa bersama sambil menuju tempat teman kami yang sudah menunggu.

Lia, Tiara, Dan Vanny adalah sahabatku. ada juga Ritri, Lana, Tiwi, Ani dan Kina. Kami kuliah ditempat yang sama, satu jurusan bahkan satu kelas. Mereka sahabat-sahabat yang mewarnai hari-hariku semenjak kuliah. Entah bagaimana rasanya kuliah tanpa mereka, pasti hampa. Mereka  ber-8 memenuhi ekspektasi ku terhadap sebuah persahabatan mereka memenuhi sebagian dari hatiku.
***
Di kantin kampus, tempat favorit kita untuk mengisi waktu setelah istirahat dan menunggu dari mata kuliah satu ke mata kuliah yang lainnya. Di tengah-tengah tawa, tanganku terasa gatal tepat di bentol itu aku menggaruk nya. meski tidak terlalu hebat tapi rasa gatal nya sudah cukup mengganggu.

“Gatel mulu kayaknya tuh lengan La?” ujar tiara.

“ iya nih, nggak tahu nih lagi gatel. biasanya enggak kok.”

“ emang bentol nya makin parah?” tanya tiara lagi.

“ nggak kok segitu segitu aja” tukasku.

“ bentol apaan?” tanya lana.

“Bentol di lengannya si Ela. katanya sih udah berapa tahun yang lalu tapi dia sendiri nggak tahu kenapa bisa bentol “ Lia mencoba menjelaskan 

“kok gue nggak tahu? “ ucap Lana sambil menyerngitkan dahi

“ gue juga nggak tahu kok”

“ gue juga gue juga” 

“hemm gue juga” respon Ritri, Ani dan Kina susul menyusul.

“Ya gue cuma bilang sama Tiara , Lia sama Vanny aja. waktu itu nginap di rumah Tiara, itu juga karena tiara yang nanya dulu. lagian nggak penting juga lah bentol doang ini.” jelasku.

“ jangan disepelein tau” tiba-tiba ani nimbrung.

“ tapi itu nggak membesar atau apa gitu? takutnya gitu kan?” tanya Ritri khawatir.

Seketika wajah mereka menunggu jawabanku 

“enggak kok dari dulu segitu segitu aja kok “

“jangan-jangan bekas imunisasi dulu kali” jawab tiwi menduga duga dengan asal.

“ya kali wi, jangan ngaco! diimunisasi itu kan udah jadi jaman kapan keleuus ( maksudnya Kali // Si Kina Anak gaul )” respon Kina kesal.

Kemudian kami tertawa. 

“eh tapi aneh juga ya kalau udah belasan tahun masih belum hilang juga tuh bentol. nggak kepikiran gitu?” Lana bertanya dengan serius.

“ udahlah… nggak usah bahas bentol gue ke asikan entar doi diomongin. nggak papa kok Insya Allah. ya udah yuk masuk kelas. udah waktunya kelas pak Radit. nanti kita dimarahin lagi. telat melulu”  ajakku.

“Hahaha. Diomelin mulu tapi nilai kita kan bagus nggak usah khawatir” Lia berceloteh. 

“nggak boleh gitu! kita harus tetap mengikuti peraturan. Kasian kan kalau mahasiswinya bandel-bandel kayak kita. gimana coba?” Kina berusaha meluruskan pemikiran Lia.

“Yaelah Na, patuh-patuh amat sama peraturan” kata Tiwi.

Kina memang yang paling patuh peraturan di antara kita dan dia selalu bertentangan dengan Lia. Aku pribadi sih kadang patuh, kadang tidak. Tergantung mood ku dan kali ini aku ingin patuh.

“Yaudah Hayu. sekali-kali kita jadi anak baik. Udah semester tua nih” ajakku.

“ Oke deh Oke deh Ayo” 

Di tengah-tengah mata kuliah itu aku berpikir kata-kata teman-temanku mengenai bentol ini. Bentol yang ada di lenganku, mereka benar. Bagaimana bisa bentol ini bertahun-tahun menemaniku? Bentol ini dari mana? Di kepalaku mulai terbit pertanyaan-pertanyaan yang aku juga tak bisa menemukan jawabannya.

“Pelangi! Pelangi! Pelangi?!”

“ eh iya pak?” pak Radit menyadarkan lamunanku.

“ kamu ngelamun ya? nggak memperhatikan?” tanyanya curiga. 

“eh enggak kok pak. saya lagi nggak enak badan. agak pusing” jawab ku berbohong.

“ oh yasudah apa kamu mau ke klinik” pak Radit bertanya dengan nada yang sedikit khawatir.

“Enggak kok pak. saya masih sanggup. saya akan coba memperhatikan bapak.” aku merasa tidak enak hati melamun di tengah mata kuliahnya.

“ heeh emang lu lagi nggak enak badan? Lah perasaan tadi baik-baik aja?” Vanny bertanya sambil menyikut ku yang duduk di sebelahnya.

“ ah enggak sih. gue lagi ngelamun aja tadi”

“ yeuuh .. Dasar lu!” balesnya sambil setengah mendorongku.

Setelah aku menoleh ke samping aku melihat wajah-wajah teman-temanku seakan mereka bertanya “elu kenapa?” aku jawab ekspresi mereka dengan ekspresi nyengir kuda tanpa kata.

***
Duduk di convinience store dekat kampus yang menjadi tempat favorit kami. Tinggalah aku,Lana, Ritri, dan Lia disitu.

“ Si Tiwi sama ani kemana sih? jadi mau shopping mereka?” tanya Lana.

“ Katanya sih gitu. kan si Tiwi mau kondangan terus Ani lihat diskon-an baju yang dia suka. yaudahlah berangkatlah mereka beli.” Ritri menjelaskan ke absenan Tiwi dan Ani.

“ kalau Tiara ke mana? “ Tanya lia.

“ Yaelah kayak nggak tahu dia aja lu. Kan dia anak rumahan udah ditelepon-in sama bokap nya”  Lana menjelaskan dengan tetap mengoleskan lipstik merah mencolok ke bibirnya.

“ iya sih” ujar Lia akhirnya.

“Eh lu ngapain La?  “ tanya Ritri menggangguku yang sedang sibuk membaca.
“ ini lagi baca artikel gue. Ternyata saat ini lagi fenomena Eta Aquarids. pengen liat deh nanti malem” jelasku kepada Ritri.

“ apaan tuh fenomena Eta Aquarids?”  Tanyanya Dengan keingintahuan nya.

eta Aquarids itu adalah hujan meteor yang terjadi dari serpihan komet Halley. Eta Aquarids itu ada selama antara bulan april – mei. Gue dari dulu mau lihat fenomena itu Cuma males bangun jam setengah tiga pagi hahaha. malam ini gue mau lihat ah. lihat yuk temenin gue!” aku memohon agar mereka ada yang menemaniku melihat Eta aquarids nanti malam.

“ ih males!!!!”  jawab mereka serempak. Sungguh respon yang mengecewakan yang artinya aku akan melihat eta Aquarids sendiri.

“Lagian ya, La.  kenapa sih lu obses banget sama hal-hal begituan? nggak sekalian aja lu jadi ilmuwan kan lu suka tuh yang berbau science. Fisika, kimia. kenapa nggak kuliah jurusan itu aja?” Tanya Ritri Penasaran.

 “hemm gue pengen kuliah Kosmologi sebenarnya, Tri.  Tapi di indonesia nggak ada.  Kalaupun ada belum tentu juga sih gue mau. nanti gue nggak bakal ketemu kalian dong hahaha “ jawabku

“ jeuuhhh , perez lu” balasnya.

“Ye serius. Lagian ya, gue Cuma tertarik aja. waktu SMA juga gue suka sama pelajaran fisika, kimia tapi nggak kepikiran buat jadi ilmuwan. Gue juga suka astronomi dari kecil banget malah, Dari SD. tapi gue nggak pengen jadi astronot meskipun suka liatin perkembangan kabar bhakan baca berita Luar angkasa gitu, Baca Novel Sci-fi. para astronom terlalu serius. Gue nggak serius itu orangnya. justru Lu tahu kan gue suka ngebanyol.” jelasku panjang lebar.

“ tapi kenapa lu suka?” tanya Lana yang selesai dengan touch up make up nya.

“ ya entahlah. gue suka aja. gue suka mempelajarinya aja. gue hobi mungkin. ya gue pelajari itu untuk gue sendiri. untuk rasa ingin tahu yang gue punya.” Setelah Aku pikir memang itulah alasanku. Aku sangat menyukai hal-hal bebau Science ya karena aku menyukainya. Memenuhi Keingin tahuan di otakku. 

“Oh gitu” Jawab Lana yang sudah kembali melihat cermin untuk melihat bibirnya yang merah merona.

“ Jadi kalian nggak ada yang mau nemenin gue nih? nginep di kosan gue liat Eta aquarids?” 

“enggak!!!”  jawab mereka serentak.

 “oke fine” jawab ku mengalah.
***
Sebelum tidur, aku Memasang alarm pukul jam 02.30 dini hari untuk melihat Eta aquarids dari balkon kosanku.

 “KKKRRRIIINGGGG!!!!!”

Alarm ku berbunyi. tepat pukul setengah tiga pagi. Aku terjaga, bersiap keluar kamar. Namun, aku merasakan gatal yang sangat hebat di lenganku tepat di bentol itu. gatal yang terus menjalar keseluruh tanganku. membuat Aku gemetar dan kemudian.

“BRUUUUUUKKKKKK!” “PRYAAARRR!!!!!”

  kemudian gelap.

Bersambung…… ke SERPIHAN KE-2 ! Tunggu minggu depan ya.

Catatan Saya : Hai teman -teman ini pertama kalinya saya publikasikan Cerita Beruntun Saya. Saya harap teman - teman suka. Kalian Boleh berinteraksi, membuat praduga, saran, dan pertanyaan dan menjadi bagian dari kehidupann Pelangi. Dia Butuh Kalian Untuk Menyemangati Hidupnya. Terimakasih


Sabtu, 02 September 2017

Surat Untuk Sahabat

Pembuka

Hari ini aku menulis satu tempat khusus di blog untuk kalian. Kalian yang sangat aku syukuri kehadirannya dalam hidupku. Bersyukurnya aku atas kehadiran kalian dalam hidupku. Ya, aku sangat bersyukur.
Lembaran memoriku akan kalian kembali berkumpul membentuk sebuah cerita dari masa lalu yang takkan bisa kita ulang kembali. Aku takkan menyebutkan satu persatu nama kalian dalam Suratku ini. biar kuceritakan kisah-kisahnya untuk kalian dan kalian lah yang menentukan apakah itu kalian atau bukan.

Surat Pertama

Teruntuk kalian kalian yang menemaniku membolos di saat jam sekolah.

Kalian Ingat?  hahaha Mungkin ini Cerita Kita sebagai anak-nakal tapi ini sangat berkesan untukku. waktu itu saat jam istirahat kita merasa bosan dan tak tahu apa yang akan kita lakukan. Dan tiba-tiba salah satu diantara kalian ada yang mengajak aku untuk mandi di sungai. Ya, di sungai. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Bagaimana aku akan mandi di sebuah Sungai. Meskipun Awalnya aku menolak, Tapi kalian mampu meyakinkanku bahwa mandi di sungai merupakan hal yang menyenangkan. 

Terbujuklah aku, maka di jam istirahat itu kita menuju Sungai setelah menyiapkan Apa yang perlu kita siapkan. Kita pun larut dengan tawa bersama ikan yang menyambut kita. Sawah-sawah melintang dengan beberapa kerbau nampak dari kejauhan sedang bekerja. Terlampau larut dalam kesenangan itu sampai kita lupa waktu. Awalnya cuma mau main di sungai sampai jam istirahat berakhir. Ternyata sampai jam pulang sekolah.Tentu saja itu membuat kita panik, kita panik karena sudah pasti orang-orang yang ada di sekolah pulang ke rumah masing-masing. sedangkan tas kita masih ada di dalam kelas. Ya ampun…

Belum selesai sampai disitu kepanikan kita. Kita juga nggak bisa masuk karena gerbang sekolah sudah ditutup dan terpaksa kita memanjat gerbang itu. Ya Ampun nggak nyangka ya kita itu anak Kecil Perempuan yang tangguh, bisa manjat gerbang sekolah dan kita akan terima konsekuensi dimarahi bapak sekolah dan orang tua. Aku sadar kita bukan anak-anak yang mudah kapok dan keesokan harinya kita tetap mandi di sungai tapi dengan strategi yang matang biar kita nggak lupa waktu. Sampai sekarang aku masih ingat Bagaimana bahagianya hal itu. mungkin ini terdengar lebay tapi aku jujur, Di kotak memoriku masih bisa mengingat Bagaimana suara gemercik air sungai itu yang sudah belasan tahun tak kujumpai lagi.

Surat Kedua

Teruntuk Kalian Berdua yang membuat aku merasa menjadi lebih muda.

Sebenarnya umur kita bisa dibilang beda sedikit, bahkan termasuk Sepantaran namun karena aku satu tingkat diatas kalian maka bisa dibilang juga aku lebih tua. bersahabat dengan karakter yang cenderung saling bertentangan membuat aku bersyukur. 
Ingat kah kalian ? dengan cerita di mana waktu itu kita sering malam-malam berkumpul untuk sekedar bercerita tentang hal menarik karena kita nggak satu sekolah. pada malam hari kita menyempatkan beli nasi goreng di pertigaan Kampung kita yang tercinta itu. Bercerita sambil jalan menuju rumah masing-masing meski Kini kita saling berjauhan doaku tetap bersama kalian.

Aku juga ingat bagaimana saat awal kita bertemu hingga kita bersahabat. Itu sangat berkesan terutama yang pertama untuk kamu si judes. Saat pertama perkenalan kita, aku ingat saat itu aku baru pindah di kampung itu aku baru di situ dan tak mengenal satupun teman. Di suatu pagi kamu dan kakekmu lewat di depan rumahku. Kamu harus ingat Bagaimana ekspresi mukamu yang judes mengeluarkan lidah terus melet-melet nggak jelas. Kamu tahu apa yang ada dalam pikiranku waktu itu? “ kenapa judes amat anak itu? jangan jangan semua anak di kampung ini judes dan aneh gitu ya. Orang aku nggak ngapa-ngapain”. Dan dua minggu kemudian ,Mama bilang “Syela mulai besok ada anak yang mau les di rumah kita, perempuan. Semoga bisa jadi teman kamu di sini ya”. Sampai esok harinya tiba, aku ogah-ogahan melihat tampang anak yang akan mulai les di rumahku (FYI mama dan ayahku guru). Pada saat itu firasatku nggak enak dan enggg..iingg…Eng kamu yang les di rumahku. Dan artinya aku akan melihat anak judes ya nggak jelas setiap hari di rumahku. Aku sempat Bilang mama kalau aku nggak mau lihat kamu karena judes tapi dari situlah persahabatan kita dimulai. kita main tanah-tanahan ,rumah-rumahan setelah kita belajar bersama. Kita terus bersahabat hingga saat ini. 

Dan selanjutnya untuk kamu yang di bis saat pertama kali kita ketemu. Kamu ingat kan kita pertma kali bertemu  di bus pariwisata tour guru-guru. Saat itu kamu duduk di belakangku bersama orangtuamu. karena kamu cukup berisik, berceloteh, instingku mengarahkan untuk menoleh ke belakang kemudian kita saling beradu Celoteh di mana Aku senang menemukan teman yang bisa kuajak bermain selama di perjalanan diantara orang-orang tua yang tak juga ku kenal. Dari di situ persahabatan kita dimulai yang ternyata rumah kita tidak begitu jauh sampai akhirnya kita bertiga; aku ,si Judes ,dan kamu saling Berteman. aku rindu Bagaimana kita bisa melalui hari-hari bersama di kampung itu. makan nasi goreng bersama, ngobrol sampai malam, Buka puasa bersama. Detik ini kita sama-sama merantau jauh dari kampung. Kuharap kalian baik-baik saja ya.


Surat Ketiga

 Teruntuk kamu sahabatku yang cukup rumit hahaha

Rumah kita yang bersebrangan, tempat ngaji yang sama, SMP yang sama, SMA yang sama dan akhirnya berpisah Saat kuliah. Sulit mengingat bagaimana saat pertama kita bertemu hingga bersahabat, yang jelas kamu salah satu sahabat terbaik yang aku punya kamu sahabat tapi cukup bisa mengayomi diantara sahabatku yang lain. mungkin karena umurmu yang sedikit lebih tua daripada aku . 
Dari semua kenangan yang banyak kita lalui, aku ingat satu cerita yang membuatku Bersyukur adanya kamu di hidupku karena aku seperti memiliki figur seorang kakak laki-laki yang tak pernah ku punya. Ingatkah kamu? siang di mana kita pulang sekolah. Hari itu kita harus menunggu jemputan yang membawa kita pulang aku memutuskan untuk ngopi bersama abang abang supir. (FYI, aku udah bakat sahabatan sama abang abang dari dulu).

Di siang yang panas itu tiba-tiba aku ingin sekali makan mangga yang ada di halaman kantor polisi yang dekat dengan tempat ngopi. Aku ingin mangga yang ada disana sampai akhirnya kamu setuju untuk manjat pohon di halaman Kantor polisi itu secara diam-diam. karena nggak ada galah juga. Saat Pak polisinya mau keluar buru-buru kita kabur bawa mangganya. Ya ampun.. Semoga pak polisi ikhlas ya Mangganya kita ambil kalau aku ingat lagi untung kita nggak ketahuan ya. kamu memang the best. Selain kenakalan dan keseruan, untuk kisah asmara yang aku alami, kamu pemberi saran yang baik , kan kamu lebih berpengalaman. Meski aku juga tahu kisah cinta mu pun terkadang juga nggak jelas. Tapi kamu sempetin untuk kasih advice yang baik. Jujur ya, Meski aku tahu kamu pun kadang nggak jelas kisah cintanya tapi entah kenapa saran itu aku perhatikan loh. Mungkin karena aku sudah menghargai kamu sebagai figur seorang Abang yang secara harfiah aku nggak punya itu. Terima kasih telah tumbuh bersama semoga hidup kamu yang baru di sana dilimpahi kebahagiaan ya. Terima kasih telah tumbuh bersama selama belasan tahun hingga kini.

Surat Keempat

Teruntuk kalian yang mengisi masa-masa indah ku di SMA.

Aku mulai mengenal teman baru, suasana baru di masa itu. Aku melihat karakter karakter baru dalam hidupku. Mulai dari teman-teman kosku yang dewasa-dewasa dan keibuan. Meskipun kita sekelas tapi entah kenapa aku selalu mendapatkan peran teman yang mengayomiku bahkan Saat Aku ngekos. Tiga dari kalian ini ada teman sekamar dan ada teman tetangga kamar. Satu kosan itulah kita mulai dekat.

 Kalian masih ingat nggak? kita suka ngecengin pak guru kita yang juga satu kosan sama kita. kita kerjain lah dia, kita jodoh jodohin lah dia, ( PS pak gurunya masih muda ) kalo aku pikir-pikir waktu itu kita keterlaluan juga ya sampai-sampai Kalian Ingat nggak? pak guru itu sempat marah sama kita terutama sama aku sih aku memang biang keladinya. Tapi itu dulu Seru kan? Iya kan? Jujur deh! sampai-sampai waktu Pak Guru itu lagi nyuci baju aja kita cengin. ya Allah, jahil banget ya kita. Aku bersyukur Aku nge-kos sama kalian sosok kalian yang dewasa membuat aku juga banyak belajar kita bahkan sering begadang malamnya buat cerita apa aja sampai besok harinya telat ke sekolah padahal jarak dari kosan kita ke sekolah itu tinggal kepleset nyampe. ya ampun aku sayang kalian, sehat-sehat kalian ya disana dimanapun kalian berada. Buat yang udah berkeluarga Semoga diberi keberkahan.

Cerita sahabat SMA masih terus berlanjut. belum berakhir, itu tadi sahabat di kosan - Kalau di sekolah ada lagi teman sebangku. Kamu orangnya ceplas-ceplos, jujur, galak. Duduk sebangku membuat kita akrab. Hei kamu teman sebangku, gayamu yang cukup tomboy dan galak membuat kamu cukup ditakuti. tapi itu yang membuat kamu fleksibel dan punya banyak temen-temen cowok. Bergaul sama kamu membuat aku juga punya banyak teman. Dari kamu aku belajar bergaul yang baik dan belajar berteman dengan perspektif yang baru. Sekarang kamu ada pulau pulau yang indah Nan Jauh di sana ingin rasanya aku mengunjungimu dan berlibur bersama. sehat-sehat ya kamu di sana.

Surat ini belum berakhir. Sahabat SMA yang satu ini ada dua orang yang sama jahilnya , isengnya sama kayak aku dan yang penting mulut mereka berdua ini berbisa Kalau lagi ngecengin orang.  Kita nggak bakal berhenti ngisengin orang kalau enggak sampai orangnya kesal atau marah sama kita. Kita bertiga bisa menggemparkan isi kelas meski di antara kita bertiga ini cowok tapi kamu seperti sang rahangnya kendor. 
kalian berdua inget nggak? waktu itu Kita di kelas nggak ada guru terus kita bercanda ngakak-ngakak terus sambil ngecengin  salah satu teman kita. Eh… tiba-tiba ada cewek super serius di kelas kita yang judes banget marahin kita. “HUKAH MAK ENGER ORENG KETELOH REH. ESEP RAH!” (Ps. Ini bahasa madura). Terus salah satu diantara kalian bilang gini “Lho kok kamu yang sewot sih orang kita ngecengin si blablabla” Terus kita sorakin dia eh dia malah disorakin juga sama anak-anak seisi kelas padahal kita yang berisik tapi anak-anak malah bantuin kita. Kalau dipikir-pikir mereka kok malah bantuin kita ya padahal cewek itu bener, kita yang berisik tapi kita menghibur, mungkin itu yang membuat anak-anak belain kita. Berasa jadi preman kelas ya kita.

Eiittss.. Ternyata Surat ini belum Berakhir Juga.Dari semua sahabat SMA yang aku ceritain tadi ada satu sahabat aku yaitu kamu. kamu yang awalnya terlihat cupu, baik-baik, kalem, pakai kacamata, terlihat awalnya tapi setelah kenal dan bergabung sama sahabat-sahabat yang tadi aku sebutin eh kendor juga ternyata. Kamu inget nggak? kita suka begadang Cuma buat Facebookan ngerjain orang lewat akun Facebook palsu. Bikin akun fake isengin temen sekolah yang kita nggak suka lewat akun itu. kamu sering nginep di kosan kalau pas tiga teman kosanku itu lagi nggak ada atau pulang ke rumah masing-masing. Meski segitu Isengnya kamu masih punya sisi rajin kok. Oh ya satu lagi, kamu ingat waktu itu pelajaran konseling. Aku lagi main di bangku kamu,terus guru konselingnya datang Terpaksa aku duduk di bangku Kamu ,Satu bangku berdua. Kamu udah ngasih tau aku untuk diam, aku masih aja ngobrol alhasil kita dibentak guru konseling yang padahal terkenal Sabar,
Ya ampun…. Kalau aku ingat ingat SMA Aku cukup Troublemaker ya orangnya.

Mungkin diantara kalian ada yang bingung sahabat - sahabat itu di zona waktu yang bersamaan atau bukan?  beberapa di antara mereka memang berada di zona waktu yang bersamaan. Namun, mereka punya spesialisasi masing-masing saat aku di rumah, saat aku di sekolah, Sahabat Konsultasi percintaan, macem macem lah. Jadi mereka semua punya tempat masing-masing dalam hidupku, mereka punya spesialisasi mereka masing-masing.
Dari situ aku belajar bahwa sahabat memang ada porsinya masing-masing. ini kita lanjut ya kisah selanjutnya ini sudah sampai kepada Surat Selanjutnya.

Surat Kelima

Teruntuk Kalian Pohon Keluargku. Kenapa pahon Keluarga? Karena di dalamnya ada silsilahnya. hahaha

 Surat ini untuk kalian yang membuatku merasa nyaman. Kuliah membuatku tinggal Ibukota. sempat berfikir Mampukah Aku menemukan sahabat sahabat seperti sahabat-sahabat yang aku tinggalkan? aku sempat pesimis. tapi aku nggak menyangka bahwa aku dipertemukan dengan kalian yang super luar biasa aku syukuri kehadirannya. Berada jauh dari orang tua tapi kasih sayang kalian membuatku merasa pulang ke rumah. Akan kusapa kalian satu persatu.

Pertama, Hei kamu yang keibuan diantara kita. entah keibuan atau emang berjiwa ibu-ibu tapi kamu sangat merasa kamu merupakan sosok ibu diantara kita. Terkadang saran yang keluar dari mulutmu itu bijak tapi di sisi lain kamu itu super duper luar biasa rahangnya kendor kalau udah ketawa-ketawa. menggelegar seantero Nusantara. Ah ngomongin ketawa, Kamu ingat nggak ? setiap kita ngumpul kamu, udah mulai ketawa hebat dan suasana menggelegar orang-orang disekitar kita ngeliatin, pasang muka judes, super terganggu sama kita. Ternyata ada yang lebih parah daripada aku ya. 
Oh ya kamu Ingat nggak aku sama kamu pernah mau diusir dosen super sabar di kampus. Waktu itu kita disuruh diskusi untuk menguraikan sebuah kasus, kita udah selesai tapi kita bosen nungguin kelompok lain yang belum selesai. Akhirnya kita memutuskan untuk joget di bangku kita . Kamu nyanyi nyanyi Plus joget-joget dan Aku di sebelah Kamu mendukung kemeriahan suasana itu . Eh tiba-tiba kita ditegur. “ kalian berdua!! ini kelas ya. sudah selesai tugasnya? kalau mau juget - joget di luar!!!!” ya ampun itu malu banget sumpah, sangat malu. semuanya di kelas memandang kita. Tapi seiring kita menjadi dewasa, kita udah nggak pernah memancing keributan lagi. (masa sih udah ga mancing keributan lagi?)

Untuk kamu yang kedua kamu yang super Alim kelihatannya tapi super Ringkih, Super Lebay kalau lagi cerita, kadang kendor. Karena terlalu ringkih, kita panggil kami si Ringkih. Gimana Nggak ringkih Coba? Cuma Gejala Flu aja Kamu nggak Masuk Kuliah haha. Semua orang terutama laki-laki akan terhipnotis melihat kamu sekilas dengan keanggunan yang kamu miliki tapi kadang kamu Anggun juga kok. kita cukup dempet di antara 1 Geng itu. Kamu punya beberapa hal yang sama denganku. Kita sama-sama fans berat ‘One Direction’  you got Harry and I got Zayn ( sebelum Zayn Keluar 1D). super nyambung sama kamu ngomongin Hollywood karena interest kita sama. Partner nonton pilihan karena mostly selera kita nonton film sama. Kalau ngomongin momen kebersamaan kita. Ingat waktu itu kita lagi sangat jatuh cinta sama One Direction. kita ngomongin mereka terus setiap hari Tiada hari tanpa ngomongin mereka dan kamu pasti nggak lupa dong kita pernah pretend kalau kita bener-bener deket sama mereka sampai-sampai kita chatting aja kita berhayal kalau Harry dan Zayn ada di sebelah kita saling kirim salam. We were pretend to be their  wife, remember? kalau diingat-ingat najong juga ya kita waktu itu. Waktu itu kita masih terlalu Naif untuk menjadi realistis hingga akhirnya kita mengenal cinta kita mulai realistis. (Cekelah Gitu)


Untuk kamu yang ketiga, kamu yang punya banyak kesamaan sama aku. Umur, bulan lahir, tahun lahir. sifat yang bisa dibilang hampir sama. kembaran aja nggak sama lho. kamu super Tomboy. Meskipun aku nggak girly juga Tapi kamu lebih Tomboy. Hahah  kita banyak ngalamin hal-hal bareng yang tanpa kita prediksi salah satunya jatuh cinta.  tapi untungnya untuk tipenya kita memiliki tipe yang berbeda . Dan karena kita cukup “ada ada aja idenya” Kita pernah membuntuti orang yang disuka. Waktu itu kita lagi Membuntuti orang yang kamu suka yang ciri-cirinya “gondrong, pakai kacamata” .Mulai kita lihat dia di kantin kampus terus kemudian kita buntutin dia karena kamu sih Yang penasaran kendaraan  apa yang dia naiki. kita buntutin terus sampai akhirnya sampai depan masjid kampus. Di halaman masjid, kita kehilangan dia, kita bingung kemana dia pergi, celingak-celinguk. Nggak jauh dari tempat kita kebingungan ada mobil Honda Jazz yang udah nyala tapi nggak jalan. kita lalu-lalang di depan mobil itu karena kita masih kebingungan kehilangan jejak dia. Mobil Jazz itu dengan perlahan melewati kita dan belakangan kita tahu bahwa mobil Jazz itu dengan dugaan terbesar adalah mobil Gebetan kamu. Beberapa waktu kemudian kamu bilang itu mobil dia. kesimpulannya, dia pasti heran lihat orang yang awalnya ada di kantin malah lalu-lalang kebingungan di dekat mobil dia. Yang kemungkinan besar sih dia tahu kita buntutin. Astaga hahaha.

Untuk kamu yang keempat, kamu yang dewasa, pendiam, diantara kita yang lain. Kamu yang paling teratur diantara kita yang lain, Kamu sosok yang menjadi kakak yang baik untukku. saran-saran bijaksana keluar dari mulutmu. Super bisa diandalkan Buat nemenin aku menjalani misi-misi aneh karena kamu yang paling mudah dibujuk diantara yang lain. Kamu ingat nggak? saat kita merencanakan penguntitan untuk gebetan kamu yang naik Vespa coklat itu. sampai muter-muter  parkiran kampus , Kita mencari Kendaraan itu untuk menyelipkan Catatan Kecil yang kamu buat untuk Dia. Sesampainya di parkiran kita menemukan banyak Vespa coklat, Kita Nggak tau Vespa “Dia” yang mana. Kebingnungan muter-muter sampi diliatin Satpam, Dikira Mau “nyolong” motor kali. Hahah Namun , aku tetap bangga sama kamu. Apapun yang terjadi kamu tetap bisa selalu bijak dalam melihat masalah.

Terus selanjutnya untuk kamu yang sangat menyukai kucing diantara kita semua. aku saat ini berusaha menggali lebih dalam memori yang kita miliki sampai aku tiba di memori di mana saat itu kita berdua berselisih paham . Sebenarnya kamu kesel nya bukan cuma sama aku sih tapi sama anak-anak yang lain juga dan aku termasuk. Ingat nggak? waktu itu lagi mata kuliah Eksternal Public Relations. Terus tiba-tiba kita dikasih tugas. anak-anak terus ketawa-ketawa meskipun hal itu sudah biasa kita lakukan ( ketawa-ketawa di sela-sela diskusi) tapi hari itu entah kenapa kamu sewot banget. Karena kita nggak bisa fokus, kamu marah dan nggak mau ngomong sama kita meskipun tugasnya berakhir bahagia dan Nilai nggak malu-maluin. kamu tetap masih kesal karena kita nggak serius. momen itu didukung oleh yang katanya kamu lagi dapet hahaha makin kesini kamu makin temperamen ya makanya dari situ kita mulai behave.  kalau kamu lagi baca ini  “no hurt feeling ya” tapi sebenarnya kamu ada benarnya sih, kita memang perlu bisa menempatkan diri , nggak terus-terusan bercanda di setiap suasana. meskipun kamu Berlebihan kalau lagi marah masalah itu.

Selanjutnya kita beralih ke kamu yang menjadi Primadona cantik, baik, tapi otaknya kurang dua Skrup kayaknya. Orang – orang  percaya bahwa di balik wajahmu yang cantik tersimpan kedewasaan tapi nyatanya, memahami kata-kata bijak yang keluar dari mulutmu pun sulit untuk aku dan anak-anak yang lain. Teori-teori yang ‘tidak masuk akal’  dan sering mengaku bipolar. Entah kenapa kamu kok malah seneng mengakui diri kamu bipolar dan kamu orang yang sering banget jadi bahan bully-an kita. tapi kamu nggak sedih kan? nggak sakit hati kan? Karena kamu  melengkapi kita. kamu tahu meski kamu sering kita bully  kita sayang sama kamu. Kamu baik dan kamu layak mendapatkan yang baik. Semoga seorang yang terbaik akan segera datang padamu ya bukan hanya lelaki hidung belang yang lalu-lalang.

Kemudian ini untuk Kalian bertiga cowok-cowok luar biasa biasa banget alay, luar biasa jahil, dan sok kenal. Adanya kalian membuat insting jahil yang kupunya sejak dini bangkit kembali. Di tengah wanita-wanita tadi yang membuat insting jahil tumpul, datanglah kalian yang mengasah insting jahilku. Kalian ingat? karena kita super jahil Kita pernah ngerjain anak-anak kampus kita. kita mainkan peran di mana Diantara Kalian berantem hebat sampai jotos-jotosan. Saat salah satu diantara kalian seolah-olah ingin melerai. namun malah ikutan kena imbasnya. Suasana menjadi sangat panas semua anak-anak di kampus bergeromobol dan melihat hal itu. ada yang ingin membantu melerai ada yang hanya terpaku. Saat semua perhatian yang ada di aula Kampus tertuju pada kalian, giliran Tugasku untuk lewat di tengah-tengah kalian terus bilang “and Cut!. Good job guys! adegan yang bagus!” kebayang dong orang -orang disitu kesel banget sama kita. Mukanya pada kayak Ingin ngata-ngatain. Astaga… itu jahil banget lho parah. setelah Aku pikir-pikir masih untung lho mereka nggak malah menyerbu kita karena itu keterlaluan juga sih. meskipun ada juga yang tertawa.

Terus selanjutnya untuk kamu yang berdarah Minang diantara kita. Kamu si penyuka mapel yang tumbuh di tanah Kanada. Semoga cita-cita kamu, cita-cita kita ke tanah ‘orang’  bisa tercapai. Kalau mengingat memori bersamamu, ada tempat memori saat itu dimana kita naik angkot bareng dari kampus bersama si ringkih dan si tomboy. Kita berempat naik angkot, Terus waktu itu kita berimajinasi bahwa orang-orang yang diangkot itu merupakan Teman se-“gang” kita dan kalau ada yang turun dari angkot artinya dia keluar dari gang. terus ada 1 orang penumpang turun dari angkot dengan lantang kamu bilang “Whuuu dia keluar dari geng!”. dan berlanjut seperti itu sampai orang selanjutnya. Kalau yang baru gabung kita bilang “Selamat datang di Gang” kebayang nggak?, Apa yang dipikiran orang itu. Mungkin dia pikir kita anak-anak freak di angkot. Belum lagi, terlalu imajinatif untuk ukuran anak kuliahan. Hahaha

Jadi Sudah Kebayang belum? Isi Satu “Geng” Kita itu Seperti apa? Iya kan.  And It’s Happened. 4 tahun kalian telah menghiasi hari-hariku selama kuliah . Sekarang setelah kita udah nggak kuliah lagi, kita mulai sibuk dengan kesibukan masing-masing. Jarang bertemu, bahkan ada yang berada di tempat yang jauh disana. aku harap kita akan tetap menjadi orang-orang yang saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain dimanapun kita berada. miss you so much.

Penutup

Bagaimana aku tidak mensyukuri kehidupanku dengan adanya makhluk-makhluk istimewa yang mewarnai Kanvasku yang sudah tidak putih lagi karena warna yang kalian torehkan dalam kanvas ku. Jika aku menjadi lukisan yang indah, maka kalian adalah pelukis hebatnya. Terimakasih telah melukis aku. Aku yang sekarang merupakan bagian dari torehan kalian dalam kanvas kehidupanku. Terima kasih telah berbagi di dalam kanvas ku dan terima kasih juga telah mengijinkan aku untuk melukis di kanvas kalian. Suatu hari aku berharap, aku dapat mengumpulkan kalian di suatu tempat. Sahabatku dari masa ke masa. Aku ingin kalian saling mengenal satu sama lain. akankah itu terjadi? Entahlah..
Aku hanya ingin minta maaf jika aku tak bisa melukis dengan sempurna di kanvas kalian. Terimakasih telah hadir dalam hidupku wahai figur-figur istimewa. ini surat cinta yang kubuat untuk kalian. ini surat cinta yang tulus dari dalam hati. Terimakasih tak bisa kuungkapkan seberapa banyak ingin Aku ucapkan atas kehadiran kalian dalam hidupku. semua lembaran memori akan kubungkus dengan rapi , dengan rapat di kotak memoriku bersama kalian. sekali lagi Terimakasih Sahabat - Sahabatku. Doakan Aku juga sedang menunggu. Menuggu pelukis baru dalam hidupku. (koooooodeee woyyy!!!)

Minggu, 21 Mei 2017

Persimpangan



Saat kalian membaca tulisan ini saya pastikan bahwa saya mengetiknya. Dan pada saat saya mengetik Saya sedang berpikir, Apa yang sebenarnya ingin saya tulis? apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan kepada dunia?. Mungkin terlalu muluk-muluk jika saya berfikir bawah orang yang membaca tulisan ini orang dari berbagai macam dunia. Tetapi siapa pun anda yang membaca tulisan saya ini, saya memberitahu anda. Selamat membaca selamat datang di persimpangan hidup saya.

Di saat saya menulis halaman ini saya ingat saya pernah berada disuatu tempat di dalam pikiran saya dimana saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Pernahkah anda merasa seperti itu? Pernahkah anda merasa bahwa Anda bimbang?  Tidak tahu apa yang ini anda lakukan?. Beberapa bulan lalu saya menginjak umur 22. Di umur ini saya berfikir Apa yang sebenarnya sudah saya capai ? Apa yang bisa saya banggakan di umur saya yang ke 22 tahun in?. Pertanyaan itu menggaung di pikiran saya menggema di semua sudut otak saya dan menyisahkan jawaban yang tak menentu.

Sudahkah saya berdiri di kaki saya sendiri? Sudahkah saya mampu berdiri tanpa bantuan orang tua saya? Sudahkah saya memenuhi hasrat yang saya inginkan dalam hidup? sudahkah itu terpenuhi? Saya terus mencari jawaban itu . Hari ini saya ingin membagikan kegelisahan ini kepada Anda siapapun yang baca tulisan saya mungkin anda juga mengalami atau Sempat berpikir hal yang sama seperti saya. Mungkin Kebimbangan Menghampiri hudup Anda? mungkin anda juga belum tahu apakah anda sudah mendapatkan apa yang anda mau? Apakah anda sudah Tujuan Anda Hidup?.

Apa yang sebenarnya ingin saya dapatkan dalam hidup saya sekarang? Cinta Sejati? Serasa belum. Kisah asmara saya pun baru saja Kandas. Jangankan berbicara tentang cinta sejati, untuk menemukan cinta yang baru dan siap kembali sakit hati saja rasanya belum siap. Lalu apakah karir yang saya inginkan? Jabatan di sebuah perusahaan?.  Rasanya Bukan Juga. Saat ini saya menjadi karyawati di sebuah perusahaan swasta. Saya tidak yakin memiliki jabatan di sebuah perusahaan merupakan Keinginan saya saat ini. Ingin punya usaha sendiri? tentu saja saya mau saya juga ingin Saya mau menciptakan bisnis saya sendiri. Membuat lapangan kerja dengan bidang yang saya sukai. Tapi sudah siapkah rencana itu? sudah sampai di mana rencananya? Sudah berjalan? belum. Bagaimana dengan cita-cita?. Cita-cita bisa berkuliah di negara Ratu Elizabeth. Kenapa negara itu sangat menarik perhatian saya? apalagi sebuah kota yang bernama London. saya selalu bermimpi untuk bisa belajar di tempat itu meski hanya sementara waktu. Sudah di mana posisi saya untuk mencapai cita-cita atau mimpi itu? Sebagian sisi dari diri saya menjawab dengan penuh pembelaan “Ya.. Masih Dalam Proses” sampai kapan? entahlah saya juga tidak tahu.

Saya berada disatu persimpangan dimana Saya harus memilih jalan mana yang ingin saya ambil terlebih dahulu cinta? Edukasi? atau karir? Hasrat?. Saya pasti ingin mengalami semuanya. hanya saja yang mana yang akan ambil terlebih dulu. Semakin lama saya memilih semakin lama saya mendapatkan semua itu. Saya terlalu nyaman di persimpangan itu hingga rasanya kaki saya sulit untuk melangkah. Saya Justru malah membuat kenyamanan saya sendiri di persimpangan itu. saya menikmati berada di persimpangan itu. Sulit mengatakan Bagaimana bisa menikmati berada di persimpangan itu? tapi saya tahu ini bukanlah hal yang baik. Saya tidak boleh merasa nyaman ada di persimpangan itu. Seharusnya saya telah mengambil langkah. Saya sadar ada yang salah dalam diri saya. Saya merenung, saya berfikir dan Saya berusaha untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Saya mencari apa yang sebenarnya ingin saya capai sekarang apa yang menjadi kepuasan dalam diri saya sekarang?. Saya pernah membaca sebuah buku filsafat dimana ada perumpamaan yang berkata “Jadilah kutu yang mencoba merangkak naik dari bulu kelinci yang keluar dari topi sang pesulap. Cobalah kita berusaha untuk menatap Mata Sang Pesulap sehingga kita tahu mengapa kita ada? apa tujuan kita hidup? dan mengapa?. Jangan menjadi kutu yang nyaman dengan kehangatan bulu kelinci sehingga kita enggan untuk menatap Mata Sang pesulap.”

Saya berfikir hari demi hari, bertanya pada diri saya sendiri, merenungkan semua yang terjadi dan akan terjadi.Saya memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. tapi saya sebagai manusia tentunya punya harapan yang akan terjadi di depan saya nanti. Oleh sebab itu, saya harus melangkah saya tidak bisa berlama-lama ada di persimpangan tapi saya tidak menyesal berada di persimpangan ini. Persimpangan membuat saya bisa melihat bagaimana sebenarnya orang-orang di sekitar saya juga berada di persimpangan dalam hidupnya. Bagaimana orang-orang di sekitar saya juga mengalami kebimbangan dalam hidupnya.Tapi mereka terlalu enggan untuk melangkah dari situ. Mereka berpikir bahwa dia atau Mereka ingin bergerak seperti air dalam hidup ini. Akan terus meluncur akan terus mengikuti arus menuju sebuah Muara hingga akhirnya di pertemukan di sebuah laut. Mereka berkata pada saya, mereka tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan sekarang tapi mereka tidak ingin melakukan perubahan. Saya pun pernah merasakan itu,saya merasakan zona nyaman di persimpangan yang membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita ada di persimpangan. Sangat membingungkan bukan? Tentu, sangat membingungkan.

Tapi para pembaca tidak perlu khawatir, kini saya tahu apa yang saya ingin ambil, apa yang ingin saya dapatkan untuk saat ini. Saya sudah tahu apa yang ingin saya dapatkan dalam Hidup. Tetapi, saya tidak akan membagikannya disini. Hanya saja saya harus berlatih lebih Fokus,  sehingga tidak terdistraksi oleh hal-hal yang “Semu Menggoda”. Biarlah saya menyimpannya untuk diri saya sendiri. mungkin di sini para pembaca juga harus bertanya pada diri sendiri. apa yang ingin anda ambil? apa yang ingin anda dapatkan? dan Apa tujuan hidup anda? Bagi Anda yang sudah mengetahui itu semua. beruntunglah Anda. Namun, jangan berpuas diri!. Anda akan Sampai pada suatu persimpangan yang lain lagi di kemudian Hari. Karena persimpangan itu akan datang silih berganti sampai kita hilang dari dunia ini.

Terimkasih.

Selasa, 13 Desember 2016

Keluh Kesahku kepada Hujan

Hujan? Apa kabar? lama tak bersua. atau   mungkin aku yang tak menyadari kehadiranmu? Pernahkah Engkau merasa letih melakukan perjalanan mu yang jauh dari langit itu? Pernahkah kau mengeluh saat harus jatuh berulang-ulang? Apa kau pernah merasa bosan menjadi hujan? jika tidak, berarti kau berbeda dengan manusia.

Kami mengeluh saat Tuhan memberi kami cobaan, kami bosan saat harus terus mencoba, kami lelah saat harus jatuh berkali-kali. Kami menyerah saat sesuatu terlihat sulit bagi kami. Hujan? menurutmu, Tuhan bosan tidak dengan kami yang terkadang lupa bagaimana bersyukur? Tuhan kecewa tidak dengan kami yang suka ingkar? aku harap Tuhan tidak marah pada kami. Betapa Tuhan sayang pada kami. Bahkan, adanya Kau adalah wujud sayang Tuhan pada kami.

Bahkan seberapa banyak tetesan mu pun tak bisa mengimbangi sayang Tuhan pada kami kan?.Terkadang aku merasa Tuhan Ingin kami belajar untuk menerima akibat dari perilaku kami yang terkadang suka semena-mena. Kami lupa betapa kecilnya kami dibanding alam Semesta ini. 

Hujan? Pernahkah kau mengintip apa yang ada diatas Langit? Bisakah kau ceritakan padaku? Atau saat kau bertemu dengan Ozon, tidakkah mereka menceritakan padamu tentang apa yang ada di Alam semesta kita? Bagaimana Ozon melihat kami? Akankah kami terlihat kecil dimata mereka?

Hujan, menurutmu? Apakah Ozon marah pada kami karena telah merusak lapisannya? Akankah Ozon akan menyerah Melindungi bumi kami ? .Jika mereka menyerah bagaimana dengan kami? kami tak bisa membayangkan bagaimana bila mereka benar benar menyerah dan menghilang. maka kamipun akan punah.

Hujan, kau adalah saksi kami tentang apa yang kami lakukan kepada Bumi. Hujan. Masihkah ada kesempatan untuk kami untuk memperbaiki semuanya? Masihkah ada waktu untuk kami hujan?. Hujan, kumohon datanglah dan sirami jiwa kami yang penuh kegalauan, kebimbangan, dan kegersangan yang ada pada perasaan kami.

Hujan, Tolong katakan pada Tuhan bahwa kami malu, kami merasa tak pantas Untuk terus dimanjakan tapi kami juga tak ingin diabaikan. 

Hujan, saat kau tiba di tanah dan menempa Rumput kering. Pernahkah Rumput kering itu, mengeluh tentang perilaku manusia?. Adakah keinginannya Untuk meneriaki kami?. Aku tahu, Bahwa Rumput Kering Itu tahu Manusia juga bertanggung jawab apa yang terjadi padanya. Akibatnya, Rumput kering itu tak memberikan Nutrisi maksimal Untuk para Herbifora. Ketika Herbifoa tak tercukupi Nutrisinya maka kepuasan pemangsa sipemakan Daging Berkurang. Dan itu dapat kestabilan rantai makanan. Kemudian, mengganggu keseimbangan hidup.

Hujan. Kami harus mengakhiri Semuanya hal buruk yang kami lakukan ini. Sebelum Tuhan yang mengakhiri dan menutup buku Perjalanan hidup kami. Sebelum Tuhan benar-benar bosan dengan kami.

Hujan, aku rasa cukup Ceritaku kali ini, Sampai jumpa! Aku belajar banyak hal darimu. Terimakasih karena tidak bosan melakukan tugasmu.

Sabtu, 05 November 2016

HITAM

Hitam , kelam menyesakan dan tak berujung . Gemuruh dalam kegelapan menyeruakan kegelesihan dalam diri yang menguasai emosi dan memperkeruh otak yang merambat dan memburam kan pandangan kita yang menyebabkan tak terkendalinya perilaku.

Pada saat itu, teringat jelas di otakku Alam perlahan membentuk wajah.  wajah yang semakin lama terbentuk semakin membuatku takut. Tak ada senyum yang ia suguhkan untuk ku. Akupun beringsut mundur perlahan, aku mulai panik aku mulai gelisah dan ingin kabur. Sayangnya sebelum itu terjadi wajah itu telebih dahulu menyapaku;

“mau kemana?” 

Aku yang saat itu hanya seorang diri dengan gemetar menjawab “tidak kemana mana”

“Hitam!” Di berteriak kepadaku. Yang membuat lumpuh seluruh tulang ku bahkan aku tak bisa merasakan kaki ku.

“apa? Hitam? Siapa? Apa?” aku menjawab serabutan.

“Hitam! Hitam! Kalian manusia! Hitam! Hitam!” dia kembali berteriak terus berteriak sampai aku terjaga dari tidurku.

Mimpi? Ya benar! Itu memang mimpi? Tapi sangat nyata sangat nyata. Gumpalan awan hitam yang membentuk wajah itu sangat nyata.
Aku tertegun dan memandang ke luar Jendela kamarku, dan walaahhhhh! Disana dia disana!. Gumpalan awan hitam itu disana. Gumpalan awan itu semakin menyerukan tanda keberadaannnya.
Aku beringsut masuk menutup tirai kamarku,aku masih mengingat bagaimana dia menatapku tajam dan meneriakan hal yang aku tak mengerti. Aku masih sangat mengingatnya dengan jelas sangat jelas.


Tak lama setelahnya petir dengan lantangnya mewartakan kehadirannya . Semakin menambah cita rasa kegelisaan sore itu, hingga “pyaaaaarrrrr!!!”. Petir yang semula  Melambai dan hanya menari nari , akhirnya menyambar sebuah kabel di depan rumah milik tetangga.  Kemudian tetangga berlari keluar dengan tegopoh- gopoh.  Dia berteriak.

“Hitaaaammm!!!”

Saat mendengar kata kata itu aku langsung melonjak keluar rumah, apalagi ini? Apa lagi? Ada apa dengan Hitam. Aku hanya memperhatikan tetanggaku menceritakan kejadiannnya . Kegelisahan ku terangkan dalam ketakutan?  Apa yang sebenarnya aku alami ini? Mungkinkah ini suatu pertanda yang aku harus waspadai? 

Semakin aku berkelut dengan kegelisahanku semakin emosiku tak terbendung dan matakupun menjatuhkan air matanya. Memkasakan diri untuk berfikir jernih bukanlah hal yang mudah. Samar samar aku mulai mendengar suara yang khas di telingaku. Namun semakin jelas suara itu semakin aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Semakin jelas suaranya dan semakin terasa tidak mungkin bagiku. Suara itu adalah Suaraku. Iya, aku!

Ku tajamkan pandanganku yang sempat buram dengan airmata dan memang yang ku lihat adalah diriku sendiri dengan pakaian serba hitam yang sedang berdebat dengan diriku yang lain. Sulit untuk ku percaya apa yang aku lihat. Mulai ku fokuskan pendengaran ku terhadap apa yamg mereka bicarakan meskipun sulit untuk percaya itu.

“Hitam! Pergilah! Sudah waktunya kau pergi, biar aku yang pegang kendali. Tidak kah kau kasihan melihat dia dengan ketakutannya yang luar biasa terus menerus dan tak hentinya bergulat dengan emosinya?”

“Hahaha putih! Itu memang tugasku. Menanamkan ketakutan dan kegelisahan yang ada pada dirinya. Kau tak bisa mengusirku. Dialah yang bisa, jika dia ingin aku pergi maka aku akan pergi. Tapi aku tak kan membiarkannya mengusirku”

“ aku yang akan membuat dia mengusirmu Hitam! Aku yang akan membuat dia melawanmu!”

Kucermati percakapan mereka, hingga kusadari aku hanya menghadapi dirku sendiri, terteror dengan ketakutanku sendiri dan mencoba lari dari diriku sendiri. Hingga akhirnya ku beranikan diriku menghampiri mereka dan berteriak.

“ Pergi kau Hitam! Pergi! Jangan ganggu aku! Kau yang membuat hidupku tidak tenang dan penuh kegelisahan.”

“ tak akan bisa kau mengusirku dengan cara itu, itu semakin memperkuat pertahananku!”

Kemudia putih berkata pada ku,

“ dia adalah lambang kemarahan ketakutan dan kegelisahan mu. Jika kau melawannya dengan kemarahan tak akan membuatnya pergi dan akan terus membuatnya lebih kuat.”

Sejenak ku terdiam, berfikir dan kemudian ku ambil nafas yang panjang. Kutenangkan diriku, ku bayangkan sesuatu yang Indah dipikiranku. Ku tatap hitam lekat lekat. Kemudian dia menghilang. 

Kutersenyum dengan hati yang lega. Namun, tak lama kemudian, “Bruuukkkk!” ada yang memdorongku dan semuanya GELAP.

Samar samar ku mulai melihat cahaya saat kubuka mataku dan aku telah kembali berada di tempat tidurku. Langsung aku bangun kulihat jendela kamar, disana awan tak lagi menyeramkan dan hitam. Tapi putih dan bersinar terkena terpaan sinar matahari.