Minggu, 21 Mei 2017

Persimpangan



Saat kalian membaca tulisan ini saya pastikan bahwa saya mengetiknya. Dan pada saat saya mengetik Saya sedang berpikir, Apa yang sebenarnya ingin saya tulis? apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan kepada dunia?. Mungkin terlalu muluk-muluk jika saya berfikir bawah orang yang membaca tulisan ini orang dari berbagai macam dunia. Tetapi siapa pun anda yang membaca tulisan saya ini, saya memberitahu anda. Selamat membaca selamat datang di persimpangan hidup saya.

Di saat saya menulis halaman ini saya ingat saya pernah berada disuatu tempat di dalam pikiran saya dimana saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Pernahkah anda merasa seperti itu? Pernahkah anda merasa bahwa Anda bimbang?  Tidak tahu apa yang ini anda lakukan?. Beberapa bulan lalu saya menginjak umur 22. Di umur ini saya berfikir Apa yang sebenarnya sudah saya capai ? Apa yang bisa saya banggakan di umur saya yang ke 22 tahun in?. Pertanyaan itu menggaung di pikiran saya menggema di semua sudut otak saya dan menyisahkan jawaban yang tak menentu.

Sudahkah saya berdiri di kaki saya sendiri? Sudahkah saya mampu berdiri tanpa bantuan orang tua saya? Sudahkah saya memenuhi hasrat yang saya inginkan dalam hidup? sudahkah itu terpenuhi? Saya terus mencari jawaban itu . Hari ini saya ingin membagikan kegelisahan ini kepada Anda siapapun yang baca tulisan saya mungkin anda juga mengalami atau Sempat berpikir hal yang sama seperti saya. Mungkin Kebimbangan Menghampiri hudup Anda? mungkin anda juga belum tahu apakah anda sudah mendapatkan apa yang anda mau? Apakah anda sudah Tujuan Anda Hidup?.

Apa yang sebenarnya ingin saya dapatkan dalam hidup saya sekarang? Cinta Sejati? Serasa belum. Kisah asmara saya pun baru saja Kandas. Jangankan berbicara tentang cinta sejati, untuk menemukan cinta yang baru dan siap kembali sakit hati saja rasanya belum siap. Lalu apakah karir yang saya inginkan? Jabatan di sebuah perusahaan?.  Rasanya Bukan Juga. Saat ini saya menjadi karyawati di sebuah perusahaan swasta. Saya tidak yakin memiliki jabatan di sebuah perusahaan merupakan Keinginan saya saat ini. Ingin punya usaha sendiri? tentu saja saya mau saya juga ingin Saya mau menciptakan bisnis saya sendiri. Membuat lapangan kerja dengan bidang yang saya sukai. Tapi sudah siapkah rencana itu? sudah sampai di mana rencananya? Sudah berjalan? belum. Bagaimana dengan cita-cita?. Cita-cita bisa berkuliah di negara Ratu Elizabeth. Kenapa negara itu sangat menarik perhatian saya? apalagi sebuah kota yang bernama London. saya selalu bermimpi untuk bisa belajar di tempat itu meski hanya sementara waktu. Sudah di mana posisi saya untuk mencapai cita-cita atau mimpi itu? Sebagian sisi dari diri saya menjawab dengan penuh pembelaan “Ya.. Masih Dalam Proses” sampai kapan? entahlah saya juga tidak tahu.

Saya berada disatu persimpangan dimana Saya harus memilih jalan mana yang ingin saya ambil terlebih dahulu cinta? Edukasi? atau karir? Hasrat?. Saya pasti ingin mengalami semuanya. hanya saja yang mana yang akan ambil terlebih dulu. Semakin lama saya memilih semakin lama saya mendapatkan semua itu. Saya terlalu nyaman di persimpangan itu hingga rasanya kaki saya sulit untuk melangkah. Saya Justru malah membuat kenyamanan saya sendiri di persimpangan itu. saya menikmati berada di persimpangan itu. Sulit mengatakan Bagaimana bisa menikmati berada di persimpangan itu? tapi saya tahu ini bukanlah hal yang baik. Saya tidak boleh merasa nyaman ada di persimpangan itu. Seharusnya saya telah mengambil langkah. Saya sadar ada yang salah dalam diri saya. Saya merenung, saya berfikir dan Saya berusaha untuk berkomunikasi dengan diri saya sendiri. Saya mencari apa yang sebenarnya ingin saya capai sekarang apa yang menjadi kepuasan dalam diri saya sekarang?. Saya pernah membaca sebuah buku filsafat dimana ada perumpamaan yang berkata “Jadilah kutu yang mencoba merangkak naik dari bulu kelinci yang keluar dari topi sang pesulap. Cobalah kita berusaha untuk menatap Mata Sang Pesulap sehingga kita tahu mengapa kita ada? apa tujuan kita hidup? dan mengapa?. Jangan menjadi kutu yang nyaman dengan kehangatan bulu kelinci sehingga kita enggan untuk menatap Mata Sang pesulap.”

Saya berfikir hari demi hari, bertanya pada diri saya sendiri, merenungkan semua yang terjadi dan akan terjadi.Saya memang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. tapi saya sebagai manusia tentunya punya harapan yang akan terjadi di depan saya nanti. Oleh sebab itu, saya harus melangkah saya tidak bisa berlama-lama ada di persimpangan tapi saya tidak menyesal berada di persimpangan ini. Persimpangan membuat saya bisa melihat bagaimana sebenarnya orang-orang di sekitar saya juga berada di persimpangan dalam hidupnya. Bagaimana orang-orang di sekitar saya juga mengalami kebimbangan dalam hidupnya.Tapi mereka terlalu enggan untuk melangkah dari situ. Mereka berpikir bahwa dia atau Mereka ingin bergerak seperti air dalam hidup ini. Akan terus meluncur akan terus mengikuti arus menuju sebuah Muara hingga akhirnya di pertemukan di sebuah laut. Mereka berkata pada saya, mereka tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan sekarang tapi mereka tidak ingin melakukan perubahan. Saya pun pernah merasakan itu,saya merasakan zona nyaman di persimpangan yang membuat kita lupa bahwa sebenarnya kita ada di persimpangan. Sangat membingungkan bukan? Tentu, sangat membingungkan.

Tapi para pembaca tidak perlu khawatir, kini saya tahu apa yang saya ingin ambil, apa yang ingin saya dapatkan untuk saat ini. Saya sudah tahu apa yang ingin saya dapatkan dalam Hidup. Tetapi, saya tidak akan membagikannya disini. Hanya saja saya harus berlatih lebih Fokus,  sehingga tidak terdistraksi oleh hal-hal yang “Semu Menggoda”. Biarlah saya menyimpannya untuk diri saya sendiri. mungkin di sini para pembaca juga harus bertanya pada diri sendiri. apa yang ingin anda ambil? apa yang ingin anda dapatkan? dan Apa tujuan hidup anda? Bagi Anda yang sudah mengetahui itu semua. beruntunglah Anda. Namun, jangan berpuas diri!. Anda akan Sampai pada suatu persimpangan yang lain lagi di kemudian Hari. Karena persimpangan itu akan datang silih berganti sampai kita hilang dari dunia ini.

Terimkasih.

Selasa, 13 Desember 2016

Keluh Kesahku kepada Hujan

Hujan? Apa kabar? lama tak bersua. atau   mungkin aku yang tak menyadari kehadiranmu? Pernahkah Engkau merasa letih melakukan perjalanan mu yang jauh dari langit itu? Pernahkah kau mengeluh saat harus jatuh berulang-ulang? Apa kau pernah merasa bosan menjadi hujan? jika tidak, berarti kau berbeda dengan manusia.

Kami mengeluh saat Tuhan memberi kami cobaan, kami bosan saat harus terus mencoba, kami lelah saat harus jatuh berkali-kali. Kami menyerah saat sesuatu terlihat sulit bagi kami. Hujan? menurutmu, Tuhan bosan tidak dengan kami yang terkadang lupa bagaimana bersyukur? Tuhan kecewa tidak dengan kami yang suka ingkar? aku harap Tuhan tidak marah pada kami. Betapa Tuhan sayang pada kami. Bahkan, adanya Kau adalah wujud sayang Tuhan pada kami.

Bahkan seberapa banyak tetesan mu pun tak bisa mengimbangi sayang Tuhan pada kami kan?.Terkadang aku merasa Tuhan Ingin kami belajar untuk menerima akibat dari perilaku kami yang terkadang suka semena-mena. Kami lupa betapa kecilnya kami dibanding alam Semesta ini. 

Hujan? Pernahkah kau mengintip apa yang ada diatas Langit? Bisakah kau ceritakan padaku? Atau saat kau bertemu dengan Ozon, tidakkah mereka menceritakan padamu tentang apa yang ada di Alam semesta kita? Bagaimana Ozon melihat kami? Akankah kami terlihat kecil dimata mereka?

Hujan, menurutmu? Apakah Ozon marah pada kami karena telah merusak lapisannya? Akankah Ozon akan menyerah Melindungi bumi kami ? .Jika mereka menyerah bagaimana dengan kami? kami tak bisa membayangkan bagaimana bila mereka benar benar menyerah dan menghilang. maka kamipun akan punah.

Hujan, kau adalah saksi kami tentang apa yang kami lakukan kepada Bumi. Hujan. Masihkah ada kesempatan untuk kami untuk memperbaiki semuanya? Masihkah ada waktu untuk kami hujan?. Hujan, kumohon datanglah dan sirami jiwa kami yang penuh kegalauan, kebimbangan, dan kegersangan yang ada pada perasaan kami.

Hujan, Tolong katakan pada Tuhan bahwa kami malu, kami merasa tak pantas Untuk terus dimanjakan tapi kami juga tak ingin diabaikan. 

Hujan, saat kau tiba di tanah dan menempa Rumput kering. Pernahkah Rumput kering itu, mengeluh tentang perilaku manusia?. Adakah keinginannya Untuk meneriaki kami?. Aku tahu, Bahwa Rumput Kering Itu tahu Manusia juga bertanggung jawab apa yang terjadi padanya. Akibatnya, Rumput kering itu tak memberikan Nutrisi maksimal Untuk para Herbifora. Ketika Herbifoa tak tercukupi Nutrisinya maka kepuasan pemangsa sipemakan Daging Berkurang. Dan itu dapat kestabilan rantai makanan. Kemudian, mengganggu keseimbangan hidup.

Hujan. Kami harus mengakhiri Semuanya hal buruk yang kami lakukan ini. Sebelum Tuhan yang mengakhiri dan menutup buku Perjalanan hidup kami. Sebelum Tuhan benar-benar bosan dengan kami.

Hujan, aku rasa cukup Ceritaku kali ini, Sampai jumpa! Aku belajar banyak hal darimu. Terimakasih karena tidak bosan melakukan tugasmu.

Sabtu, 05 November 2016

HITAM

Hitam , kelam menyesakan dan tak berujung . Gemuruh dalam kegelapan menyeruakan kegelesihan dalam diri yang menguasai emosi dan memperkeruh otak yang merambat dan memburam kan pandangan kita yang menyebabkan tak terkendalinya perilaku.

Pada saat itu, teringat jelas di otakku Alam perlahan membentuk wajah.  wajah yang semakin lama terbentuk semakin membuatku takut. Tak ada senyum yang ia suguhkan untuk ku. Akupun beringsut mundur perlahan, aku mulai panik aku mulai gelisah dan ingin kabur. Sayangnya sebelum itu terjadi wajah itu telebih dahulu menyapaku;

“mau kemana?” 

Aku yang saat itu hanya seorang diri dengan gemetar menjawab “tidak kemana mana”

“Hitam!” Di berteriak kepadaku. Yang membuat lumpuh seluruh tulang ku bahkan aku tak bisa merasakan kaki ku.

“apa? Hitam? Siapa? Apa?” aku menjawab serabutan.

“Hitam! Hitam! Kalian manusia! Hitam! Hitam!” dia kembali berteriak terus berteriak sampai aku terjaga dari tidurku.

Mimpi? Ya benar! Itu memang mimpi? Tapi sangat nyata sangat nyata. Gumpalan awan hitam yang membentuk wajah itu sangat nyata.
Aku tertegun dan memandang ke luar Jendela kamarku, dan walaahhhhh! Disana dia disana!. Gumpalan awan hitam itu disana. Gumpalan awan itu semakin menyerukan tanda keberadaannnya.
Aku beringsut masuk menutup tirai kamarku,aku masih mengingat bagaimana dia menatapku tajam dan meneriakan hal yang aku tak mengerti. Aku masih sangat mengingatnya dengan jelas sangat jelas.


Tak lama setelahnya petir dengan lantangnya mewartakan kehadirannya . Semakin menambah cita rasa kegelisaan sore itu, hingga “pyaaaaarrrrr!!!”. Petir yang semula  Melambai dan hanya menari nari , akhirnya menyambar sebuah kabel di depan rumah milik tetangga.  Kemudian tetangga berlari keluar dengan tegopoh- gopoh.  Dia berteriak.

“Hitaaaammm!!!”

Saat mendengar kata kata itu aku langsung melonjak keluar rumah, apalagi ini? Apa lagi? Ada apa dengan Hitam. Aku hanya memperhatikan tetanggaku menceritakan kejadiannnya . Kegelisahan ku terangkan dalam ketakutan?  Apa yang sebenarnya aku alami ini? Mungkinkah ini suatu pertanda yang aku harus waspadai? 

Semakin aku berkelut dengan kegelisahanku semakin emosiku tak terbendung dan matakupun menjatuhkan air matanya. Memkasakan diri untuk berfikir jernih bukanlah hal yang mudah. Samar samar aku mulai mendengar suara yang khas di telingaku. Namun semakin jelas suara itu semakin aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Semakin jelas suaranya dan semakin terasa tidak mungkin bagiku. Suara itu adalah Suaraku. Iya, aku!

Ku tajamkan pandanganku yang sempat buram dengan airmata dan memang yang ku lihat adalah diriku sendiri dengan pakaian serba hitam yang sedang berdebat dengan diriku yang lain. Sulit untuk ku percaya apa yang aku lihat. Mulai ku fokuskan pendengaran ku terhadap apa yamg mereka bicarakan meskipun sulit untuk percaya itu.

“Hitam! Pergilah! Sudah waktunya kau pergi, biar aku yang pegang kendali. Tidak kah kau kasihan melihat dia dengan ketakutannya yang luar biasa terus menerus dan tak hentinya bergulat dengan emosinya?”

“Hahaha putih! Itu memang tugasku. Menanamkan ketakutan dan kegelisahan yang ada pada dirinya. Kau tak bisa mengusirku. Dialah yang bisa, jika dia ingin aku pergi maka aku akan pergi. Tapi aku tak kan membiarkannya mengusirku”

“ aku yang akan membuat dia mengusirmu Hitam! Aku yang akan membuat dia melawanmu!”

Kucermati percakapan mereka, hingga kusadari aku hanya menghadapi dirku sendiri, terteror dengan ketakutanku sendiri dan mencoba lari dari diriku sendiri. Hingga akhirnya ku beranikan diriku menghampiri mereka dan berteriak.

“ Pergi kau Hitam! Pergi! Jangan ganggu aku! Kau yang membuat hidupku tidak tenang dan penuh kegelisahan.”

“ tak akan bisa kau mengusirku dengan cara itu, itu semakin memperkuat pertahananku!”

Kemudia putih berkata pada ku,

“ dia adalah lambang kemarahan ketakutan dan kegelisahan mu. Jika kau melawannya dengan kemarahan tak akan membuatnya pergi dan akan terus membuatnya lebih kuat.”

Sejenak ku terdiam, berfikir dan kemudian ku ambil nafas yang panjang. Kutenangkan diriku, ku bayangkan sesuatu yang Indah dipikiranku. Ku tatap hitam lekat lekat. Kemudian dia menghilang. 

Kutersenyum dengan hati yang lega. Namun, tak lama kemudian, “Bruuukkkk!” ada yang memdorongku dan semuanya GELAP.

Samar samar ku mulai melihat cahaya saat kubuka mataku dan aku telah kembali berada di tempat tidurku. Langsung aku bangun kulihat jendela kamar, disana awan tak lagi menyeramkan dan hitam. Tapi putih dan bersinar terkena terpaan sinar matahari.